Menulis Ulang Sejarah, Membaca Kisah Orang yang “Kalah”

MENULIS ULANG SEJARAH

Membaca Kisah Orang yang “Kalah”

 

Tini dan Yanti
Kepergianku buat kehadiran

Di hari esok yang gemilang

Jangan kecewa, meski derita menantang
Itu adalah mulia
Tiada bingkisan hanya kecintaan
Akan kebebasan mendatang

La historia me absolvera
La historia me absolvera

historia_me_absolvera1

Bait-bait syair lagu diatas bisa jadi tidak ada artinya bagi kita. Atau mungkin kita dapat menganggapnya sebagai karya amatiran seorang yang baru belajar menulis sebuah lagu. Namun bagi seorang Dewa Ngurah Djenawi – dan ratusan kawannya, sesama mantan tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol) di Penjara Pekambingan, Kota Denpasar – lagu berjudul Tini dan Yanti itu memiliki makna khusus. Lagu itu selalu mengingatkan pria yang kini berusia 54 tahun pada suatu masa yang penuh penderitaan. Suatu masa yang telah lama berlalu, namun masih segar diingatannya. Suatu masa ketika lagu yang sama pula yang sering dilantunkan para tapol dan napol di Penjara Pekambingan melewati hari-hari dengan penuh harapan dan keyakinan. Bahwa kepergian adalah kehadiran di hari esok yang gemilang.

Dibalik tubuh yang terlihat tegap dan gagah walau sudah berusia senja, Djenawi menyimpan bekas luka fisik dan batin yang sulit untuk disembuhkan. “Luka ini saya peroleh dari “almamater” yang telah membesarkan saya,” begitu ayah dua anak ini pernah mencoba untuk melucu sambil memperlihatkan luka dibagian hidung yang pernah patah dan membengkak kena hajar aparat militer.

Lalu Djenawi berkisah tentang hak asasi dan kebebasannya yang direnggut secara paksa oleh Rezim Orde Baru 30 tahun yang lalu. Kebebasan bersuara, kebebasan berpendapat dan juga kebebasan untuk berbeda. Ia tak pernah mengira, sikapnya mendukung Bung Karno dan mendirikan Barisan Soekarno pada tahun 1967 dapat menjerumuskannya kedalam penjara selama bertahun-tahun.

Tidak banyak masyarakat Indonesia yang tahu, sejarah-sejarah “kecil” yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti yang dialami oleh Djenawi. Sebaliknya hampir semua rakyat Indonesia mengetahui, kisah-kisah “besar” semacam kisah kepahlawanan Soeharto dalam menumpas PKI yang dituduh sebagai dalang G/30/S. Saya termasuk salah seorang yang beruntung dapat membaca versi lain dari sejarah Indonesia. Sebuah versi yang dalam bahasa antropolog Bali, Degung Santikarma, disebut sebagai sejarah non-naratif, atau sejarah yang tertuang dalam ruang kehidupan sehari-hari. Walaupun sejarah itu hanya sekedar cuilan ingatan seseorang yang bahkan bertolak belakang dari sejarah resmi versi negara.

Sebagai bagian dari pelaku sejarah era 1960-an di Bali, Djenawi lebih suka disebut sebagai seorang Soekarnois. Ia sama sekali menolak tudingan bahwa dirinya adalah anggota PKI. Sorot mata yang tajam dan cara bicara yang tegas berwibawa membuat saya percaya bahwa ia memang dibesarkan dalam keluarga militer Soekarnois seperti pengakuannya. Maka sayapun tidak terlalu heran jika pada usia 19 tahun ia telah berhasil membentuk Barisan Soekarno dan membangun jaringan pendukung hingga kepelosok desa di Bali.

Bung Karno sebagai tokoh politik ketika itu memiliki pengikut dan pengagum seperti Djenawi. Namun tak dapat dipungkiri Bung Karno juga mempunyai musuh dan orang-orang yang membencinya. Para lawan politik Bung Karno menyatakan kebencian dan rasa permusuhan mereka lewat media massa seperti surat kabar, majalah dan sebagainya. Hal itulah yang membuat Djenawi prihatin dan berinisiatif mendirikan organisasi yang mendukung dan menyebarluaskan paham pemikiran Soekarno. Meskipun waktu itu Djenawi baru duduk di kelas tiga SMA, ia sudah memiliki kemampuan memimpin kawan-kawannya – diantara mereka ada yang jauh lebih tua – menerbitkan bulletin Barisan Soekarno. Dalam bulletin yang seluruh prosesnya dikerjakan beramai-ramai itu, berisi tulisan-tulisan yang dalam bahasa Djenawi disebut sebagai, “proses pelajaran politik bagi rakyat.”

Malang tak bisa ditebak. Upaya Djenawi muda dianggap sebagai tindakan subversif oleh rezim yang berkuasa dan karenanya ia diburu oleh aparat militer. Setelah nyaris setahun memimpin Barisan Soekarno, ia ditangkap oleh militer pada suatu hari di tahun 1968. Proses pemeriksaan terhadap dirinya, merupakan peristiwa yang tak akan pernah dilupakan seumur hidup. Siksaan fisik maupun batin telah ia cicipi dari yang tingkatnya sederhana hingga diluar batas perikemanusiaan. Siksaan itu pada prinsipnya ingin memaksakan pengakuan bahwa ia adalah anggota PKI.

Hingga suatu hari diawal bulan januari tahun 1971, Hakim Pengadilan Negeri Denpasar menjatuhkan vonis hukuman penjara selama 6 tahun kepada Djenawi karena “terbukti” bersalah terlibat dalam organisasi terlarang PKI. Sebuah tuduhan dan stigma yang sangat ditakuti oleh masyarakat Indonesia, bahkan hingga saat ini.

Karena merasa tidak pernah melakukan kegiatan seperti yang dituduhkan oleh jaksa, Djenawi menyangkal semua tuduhan itu. Dalam pledoi dihadapan majelis hakim beberapa minggu sebelum vonis dijatuhkan, ia menulis, …Kami bukanlah anggota-anggota PKI dan tidak pernah disumpah sebagai anggota PKI. Kegiatan kami tidak ada sangkut paut organisasi maupun ideologi dengan PKI. Namun hakim, menganggap sepi pembelaan Djenawi tersebut. Keputusan mereka sudah bulat untuk mengirim Djenawi ke dalam penjara.

Satu hal yang unik dari kisah Djenawi ialah jika sementara Napol atau Tapol ada yang mendapat remisi, ia justru harus menjalani hidup di penjara selama 10 tahun, jauh lebih lama dari keputusan hakim. “Saya mendapatkan bonus tambahan 4 tahun,” gurau pria yang kini aktif di sebuah lembaga yang bergerak dibidang hak asasi manusia itu, sambil menggelengkan kepala tidak habis mengerti. Dalam pledoi bertuliskan tangan setebal 10 halaman, ia menuliskan keheranan itu dengan kalimat,kami tidak mengerti, mengapa pengikut-pengikut bekas Presiden Soekarno, pengagum-pengagumnja, petjinta-petjintanya harus ditindak dan dimasukkan pendjara?

——

Lebih dari 60 persen penduduk Indonesia saat ini lahir pada periode sesudah 1965. Mereka sebagian besar mengandalkan pada informasi sejarah untuk mengetahui peristiwa tersebut. Ketika Orde Baru berkuasa, sejarah telah mengalami proses mistifikasi. Sejarah membeku dalam teks-teks resmi versi penguasa. Ia telah menjadi bagian dalam kitab suci yang melegitimasi kekuasaan Orde Baru. Lihat saja film Pengkhianatan G/30/S yang setiap tahunnya diputar untuk membangkitkan kebencian kolektif kepada PKI. Kata sejarah dalam konteks ini menjadi sesuatu yang absurd, karena ia berada diluar pengalaman orang. Sejarah dalam versi resminya menjadi sesuatu yang tidak dapat didialogkan oleh orang-orang yang “kalah”.

Padahal banyak ingatan para pelaku maupun “penonton” tragedi 65 yang tersimpan dan kadang tertuang dalam pembicaraan lisan. Ingatan yang sesungguhnya bisa menawarkan dimensi lain tentang tragedi tersebut. tentang kekejaman, kebencian yang tak beralasan, diskriminasi dan sebagainya. Namun keterbatasan medium, akurasi serta “keengganan” di kalangan masyarakat untuk membicarakan tragedi tersebut membuat kisah yang orang yang “kalah” menjadi tidak berkembang luas

Membaca kisah yang dialami oleh Djenawi sama juga dengan menulis kembali sejarah Indonesia. Menulis dalam ingatan kita, mendekatkan sejarah dengan keseharian dan menjadikannya sebagai sebuah proses dialog. Pada titik ini, sejarah menjadi milik pribadi yang cair dan hidup. Kisah yang bisa diperbincangkan, dipertukarkan dan dibenturkan dengan kisah-kisah lain. Seperti yang disenandungkan Djenawi, La historia me absorvera, biarlah sejarah pula yang akan membuktikan.

[catatan akhir: lagi-lagi karena kemalasan saya dalam menulis, terpaksa saya mendaur ulang dan copy+paste tulisan lama kedalam blog ini. Tulisan ini saya buat khusus untuk Pak Djenawi, dan selesai pada Bulan September 2002]

[Update 10 Juli 2013: Ketika sedang migrasi dan beres-beres dari blog’s theme versi lama ke yang baru, tidak sengaja saya menemukan tautan youtube lagu ini. Check this out]

4 thoughts on “Menulis Ulang Sejarah, Membaca Kisah Orang yang “Kalah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *