Teror d[ar]i Surga: Menguak Anatomi Surga dan Arkeologi Teror

Catatan pengantar: Tulisan ini merupakan suntingan dari sebuah email yang saya kirim untuk seorang kawan. Ditulis pada tahun 2002, dan merupakan refleksi pribadi atas wacana teroris yang sedang hangat ketika itu.

—————————————————————————-

DSC_0066 - Copy

Alkisah. Sebuah negeri nan indah, damai dan sentosa. Dengan nyiur melambai, sawah hijau yang permai, pasir putih di pantai dan hangat sinar mentari. Orang menyebut tempat itu sebagai surga terakhir di muka bumi. Tempat dimana suka cita adalah persinggahan utama, persis seperti dongeng pengantar tidur yang biasa dikisahkan seorang kakek kepada cucunya. Dongeng yang indah tentu tidak pernah mengenal kosakata kekerasan, perang, kejahatan apalagi teror.

Tapi tak pernah ada sup yang tak bergaram dan tak pernah ada dongeng yang berjalan “lurus”. Begitu pula dengan perjalanan hidup sebuah surga. Kata surga hadir dan diyakini karena ada bahasa yang beroposisi denganya. Semisal, kata sehat tak akan pernah memiliki makna jika tak pernah ada kata dan kondisi yang dinamakan “sakit”. Bali yang dipersepsikan sebagai sebuah surga, tentu akan beroposisi dengan daerah lain yang mempresentasikan neraka, misalnya daerah konflik di ujuang barat dan timur Indonesia.

Siklus hidup sebuah surga seperti Bali, mengingatkan dengan perjalanan hidup manusia di muka bumi. Ada satu titik yang disebut dengan kelahiran, ada suatu massa dimana kita beranjak dewasa, lalu menjadi tua pada rentang waktu yang lain, sebelum akhirnya layu dan mati. Siklus yang sama tentunya juga terjadi, tidak hanya untuk manusia. Suku, ras, bangsa dan bahkan agama bisa menjadi sama. Dalam sebuah siklus keseimbangan, orang cina menyebut hal itu sebagai yin dan yang. Masyarakat Bali percaya akan karmapala. Sedangkan kaum muslim sangat meyakini takdir. Adalah proses yang wajar, manusiawi dan alamiah terperangkap dalam sebuah siklus kehidupan.

Dahulu kita mengenal Yunani sebagai bangsa adidaya. Bukan hanya karena pengaruh pemikiran para filsufnya seperti trio Socrates, Plato dan Aristoteles. Tapi juga dari mitologi mereka yang sampai saat ini mendunia. Bahkan banyak penamaan ilmiah yang menggunakan kosakata Yunani. Tak heran jika ada yang menyebut Yunani sebagai surga di masa lalu. Lihat saja kecantikan kota Athena yang masih tergurat pada sisa puing puingnya. Athena, negara kota yang utopi sekaligus nyata. Dimana semua rakyat adalah juga anggota senat. Dimana kekuasaan terbagi rata tak terkecuali. Semua bahagia semua suka cita. Semua kaya raya.

Tapi Athena tempat yang tak pernah seratus persen aman. Bahkan untuk seorang filsuf sekaliber Socrates. Saat ini, hampir separuh penduduk bumi pernah mendengar nama itu. Mungkin seperempat dari separuh tersebut menaruh hormat dan takzim kepadanya. Sebagai seorang filsuf, ia meninggalkan jejak pemikiran yang sangat berharga. Harta yang tak pernah akan setara dengan berjuta emas, berlian dan permata yang konon masih terkubur dalam perut gunung olimpus. Harta pengetahuan yang kini menjadi fondasi bangunan filsafat modern.

Tapi, ketika itu rakyat Athena melihat Socrates dari sudut pandang yang berbeda. Ia bukan lautan kebijaksanaan yang harus diamini dengan takzim dan bersimpuh. Senat menganggap Socrates adalah teror. Socrates adalah orang gila rasional yang pernah dimiliki oleh warga kota Athena. Ia meneror setiap orang yang dijumpainya. Di jalan-jalan kota, di warung-warung kopi, di sudut pasar dan di alun-alun kota praja. Bahkan ia telah dicurigai meneror para anak muda untuk berbuat bid’ah.

Socrates bisa jadi sama dengan bom C4 atau peluru kendali berkepala nuklir yang dimiliki oleh Amerika. Kalau Socrates mampu “meracuni” seratus orang kemudian seratus orang itu meracuni seribu orang, lalu seribu orang menjadi sejuta dan akhirnya satu milyar dengan pemikiran-pemikirannya. C4 dan nuklir juga mampu membawa korban sejumlah yang sama dengan Socrates. Bedanya, Socrates meracuni untuk membebaskan dari ketertindasan irasional. Sedangkan C4 dan nuklir membunuh untuk menguasai dunia dengan alasan irasional. Socrates berjasa karena ia yang pertama kali menawarkan jalan logika dalam proses mengungkapkan ke-“benar”-an. Tapi Vonis sudah terlanjur dijatuhkan oleh senat. Mereka menghukum mati bagi teroris yang meracuni pemikiran orang banyak. Dan Socrates harus mati… sebagai syuhada.

“Teror itu bernama Socrates,” teriak anggota senat. Teror juga yang tercampur dalam segelas racun yang ditenggaknya. Dalam hal ini teror adalah pemikiran, ia tidak terletak diluar sana dengan berendap-endap, lalu, “bum!” Meledakkan Athena. Tapi teror yang sangat dekat, bahkan ada dalam tubuh masyarakat itu sendiri. Maka untuk ketentraman surga di Athena. Racun yang bernama Socrates harus disingkirkan dengan racun dalam segelas anggur. Teror dibalas teror. Teror yang hidup di pikiran manusia adalah amunisi yang sempurna, baik untuk tujuan mempertahankan kemapanan maupun menciptakan kondisi chaos. Andai Socrates hidup di masa ini. Sudah pasti ia akan dicap teroris sekaliber Osama bin Laden. Dikejar-kejar peluru kendali, kepalanya dihargai jutaan dollar, dan dituntut karena mempertanyakan “kemapanan” kapitalisme. Kita tahu, surga Yunani meredup dalam beberapa dasawarsa setelah tewasnya Socrates. Tinggal kenangan, puing dan mitos. Tapi nama Socrates tetap harum.

Menyebut nama Yunani tentu tak akan terpisahkan dengan bangsa Romawi. Bangsa yang harum namanya lahir dari kekuatan militer. Romawi dikenal sebagai negara besar, dengan wilayah kekuasaan yang luas. Ada Kaisar Julius yang menguasai hampir 1/4 rupa bumi. Romawi dengan ibukotanya Roma adalah surga kelam di masa lalu. Disana berdiri Colloseum tempat kebiadaban dipertontonkan dengan telanjang. Terdapat banyak budak hitam dari afrika, simbol kemapanan para pejabat roma. Lalu keramik, pilar pilar megah dengan sauna didalam rumah pamong raja. Tak lupa ribuan prajurit dengan topi baja ber-rumbai yang seksi dibawah komando panglima dengan tubuh gagahdan wajah bengis haus darah.

Dari film produksi Hollywood, Romawi adalah kerajaan sangar, kejam namun eksotis yang sekaligus romantis. Tahta, harta dan wanita menjadi tema utama dalam film-film itu yang harus dicapai dengan darah. Entah citra yang dijual Hollywood tersebut sekedar imajinasi liar para sutradaranya atau memang seperti itulah rupa Romawi. Namun tidak dapat dipungkiri memang, Roma mewakili semangat penjajahan purba yang sampai saat ini masih diwarisi oleh para buyutnya. Kedigdayaan Alexander yang agung masih tertoreh di pucuk benua Afrika membentang hingga india dan pelosok baltik. Meninggalkan perih dan juga luka genetik yang tersisa di tubuh anak-anak bangsa yang dijajah olehnya.

Sehebat-hebatnya romawi. Toh bangsa itu tak pernah dapat benar-benar menaklukan sebuah desa di pedalaman Prancis. Setidaknya hal itu ada dalam sebuah komik. Jangan lupa, Asterix dan Obelix pendekar sakti mandraguna sempat membuat sang kaisar kalang kabut. Bagi Romawi, Asterix dan kawan-kawan adalah teror. Bagi para panglima benteng-benteng yang memagari desa itu, Asterix adalah mimpi buruk mereka. Senasib dengan celeng yang selalu diburu oleh Obelix. Berlari ketakutan dan bersembunyi dibalik pohon.

Bangsa Prancis mungkin tidak benar-benar pernah memiliki Asterix dalam sejarah perjuangan mereka melawan Romawi. Namun, sebatang pensil dan secarik kertas tidak dapat mengkerangkeng imajinasi yang hidup di kepala sang pengarang dan ilustrator. Teror yang menimpa bangsa Prancis lebih dari seribu tahun yang lalu, kini dibelokkan menjadi teror imajiniatif. Yang kadang lucu, heroik, romantis, dramatis dan (tak lupa) politis. Siapa sih, yang bisa memenjara imajinasi. Siapa yang menjamin angan tak pernah menjadi nyata. Asterix bagi bangsa Prancis adalah simbol perlawanan sekaligus pahlawan. Tapi sebaliknya, bagi pasukan romawi mereka adalah teror.

Teror dalam hal ini tidak hidup diluar sana, mengendap-endap, berkonspirasi dan, “bum!” Meluluhlantakkan Roma. Ada dua pola hubungan yang terjadi antara teror dan imajinasi yang terjadi pada titik ini. Imajinasi yang menimbulkan teror dan teror yang hidup dalam imajinasi. Pada pola pertama, Imajinasi dapat menjadi teror yang sangat mengerikan. Ia membunuh akal rasional dan menciptakan totem atau simbol yang diyakini sebagai juru selamat. Kepada totem itulah, seseorang mempersembahkan hidup bahkan matinya. Totemisasi tuhan adalah gejala yang sering terjadi pada orang yang sedang kehilangan akal sehat. Banyak hal yang menyebabkan akal sehat hilang. Salah satunya ialah keyakinan yang luar biasa kepada sesuatu ke-“benar”-an tanpa ada proses dialog didalamnya. Ruang rasional dijajah melalui proses dogmatis yang justru dilegitimasi dengan kekaburan teks-teks agama.

Pola kedua memperlihatkan hubungan yang lebih halus namun menyimpan potensi yang sama kuat daya rusaknya. Teror yang hidup dalam imajinasi diciptakan oleh perangkat media. Film mengajari kita bagaimana melakukan teror dengan sangat rapi dan terencana. Ada proses internalisasi pengetahuan-imajinatif disitu. Mengingatkan kepada film The Siege yang sempat dilarang peredarannya di Indonesia karena mendeskriditkan umat islam sebagai pelaku terorisme. Tepat setahun setelah film itu diputar, menara kembar runtuh dan seperti ingin membenarkan teori “fundamentalisme islam yang bertanggung jawab.” Lalu terciptalah teror yang hidup dalam imajinasi. Teror yang hidup dalam imajinasi masyarakat Amerika bahwa umat islam adalah pelaku kejahatan manusia yang tak terperikan. Teror yang hidup dalam imajinasi masyarakat Bali bahwa pendatang dan khususnya umat islam yang membuat bali leteh (baca: kotor). Walau tidak semua masyarakat Bali memiliki pandangan yang sama Teror seperti itu selalu diciptakan lewat teknologi penyebaran wacana melalui media massa yang membombardir ruang kesadaran objektif. Perangkat nilai maupun analisis menjadi tidak seimbang. Fakta berbaur dengan fiksi, dan teror memenangkan pertempuran antara imajinasi dan rasionalitas disalah satu sudut kepala kita.

Teror hadir dalam wujudnya yang sangat halus. Ia lahir d(ar)i dunia imajinasi, hidup dan berkembang disitu. Didalam sebuah wilayah yang tak pernah kita lihat bentuknya. Bagi mereka yang terbuai dengan imajinasi, tentu bukanlah sebuah komik semacam Asterix yang dapat mengobarkan semangat membunuh diri sendiri dan mengajak ratusan bahkan ribuan orang tak berdosa untuk mati bersama. Butuh lebih dari sekedar komik. Butuh lebih dari sekedar totem dan butuh lebih dari sekedar… imajinasi.

Di penghujung kedigdayaan Romawi, ada sebuah wilayah padang pasir yang terik dan tak bersahabat. Bangsa Arab ketika itu diapit dua kekuatan besar Romawi dan Persia. Namun dua kekuatan besar yang juga dua peradaban besar itulah bahan bakar yang cukup bagi bangsa arab untuk memulai peradabannya sendiri. Pada awalnya, perluasan wilayah islam adalah bagian dari apa yang disebut oleh Nietzche sebagai “will to power” atau birahi berkuasa bangsa arab. Disini perluasan kekuasaan tidak boleh dilihat sekedar hubungan mutual antara islam dan kekuasaan. Namun menukik lebih dalam kepada sebuah semangat misionaris yang bisa disebut dalam islam sebagai dakwah.

Dakwah merupakan jantung kehidupan umat. Disini kampanye selalu dikobarkan setiap detik, jam, hari, minggu, tahun dan abad. Persinggungan yang terjadi antara kristen dan islam pada era abad pertengahan boleh dikatakan hal ini sebagai salah satu penyebabnya. Bersama-sama kedua agama menyatakan diri yang paling “benar”. Sehingga tidak ada ruang lain diantara kata benar dan salah. Fatalis memang. Tapi seperti itulah kondisi yang terjadi.

Agama pada titik ini bertransformasi menjadi benda. Ia menjadi sesuatu yang ajeg dan seperti barang yang diperjual-belikan. Karena itulah tak salah jika ada yang menyebut para pendakwah sebagai sekelompok sales yang sedang menjajakan barang dagangan. Mereka sibuk menawarkan ke-“benar”-an kepada orang lain. Untuk mendukung argumen ke-“benar”-an barang daganganya, para pakar (baca: kyai) sibuk mempersiapkan argumentasi yang sesuai dengan teks. Dicari-cari teks yang selalu menyalahkan eksistensi diluar yang “benar” dan kemudian menghebat-hebatkan ke-“benar”-annya sendiri. Sayangnya proses jualan itu lebih banyak menggunakan pendekatan dogmatis yang sudah tentu tak akan berhasil untuk era postmodernisme seperti sekarang ini.

Lalu dimana gerangan teror pada masa kini. Teror menyeruak masuk dan bersetubuh dengan negara disatu sisi dan menyamar dalam satu atau dua selongsong yang saling terputus. Seorang intelektual FPI memberikan nama beken, terorisme negara atau state terorism, dan Amerika memberikan nama terorisme global untuk meyakini bahwa dibalik serangan teror itu ada konektivitas satu dan lainnya. Teror dalam segi bahasa biasa beroposisi dengan kata tenang atau damai. Dengan demikian teror bisa dikatakan sebagai sekumpulan praktek tertentu yang menyebabkan situasi tidak tenang atau damai.

Berbagai praktek teror selalu digunakan untuk menakuti dan mengancam musuh. Dalam hubungan antara dua negara yang berseteru. Teror merupakan jalan yang terbaik. Selain tidak mudah teridentifikasi, murah, tidak membutuhkan korban yang banyak dari pihak pelaku dan relatif sukses mencapai targetnya.

Tapi kita lupa…. ke-“benar”-an apapun (baca: agama) tidak pernah membenarkan tindakan-tindakan yang diluar batas perikemanusiaan.

Berapa orang lagi harus mati demi sebuah ke-“benar”-an…………………………

2 thoughts on “Teror d[ar]i Surga: Menguak Anatomi Surga dan Arkeologi Teror